Pohon Natal Terbalik
Pohon Natal terbalik di sebuah atrium. (Ancient Origins)

Menggantungkan pohon Natal di langit-langit rumah atau sebuah bangunan memunculkan spekulasi berbeda. Ada yang menganggap cara ini membuat lantai jadi bersih, melindungi anak-anak, atau menghindari kecelakaan kecil.

Namun, memasang pohon Natal dengan posisi terbalik dianggap bertentangan dengan norma, kontroversial, dan membingungkan.

CBC News melaporkan pohon Natal yang dipasang menggantung dan terbalik bisa dijumpai di lobi hotel-hotel eksklusif dan atrium umum, mulai dari London hingga Vancouver.

Tentu saja pohon-pohon tersebut sangat menarik perhatian masyarakat. Namun, apakah mereka yang mempraktikan metode ini benar-benar mengikuti tradisi Abad Pertengahan, atau apakah ide itu murni komersial?

Orang yang memasang pohon Natal terbalik mengungkapkan, cara itu pernah populer pada abad ke-12 di Eropa Timur.

Namun, penting untuk dicatat, pohon yang bisa digantung pada umumnya hanyalah pohon cemara, bukan pohon besar yang dihias sangat meriah seperti yang sering kita lihat di pusat perbelanjaan atau hotel mewah saat ini.

Di Polandia, bagian atas pohon, atau ranting dari pohon cemara, digantung menghadap ke bawah — biasanya berhadapan dengan meja makan — untuk persiapan liburan Wigilia atau Wilia. Fitur dekoratif ini kemudian dihiasi dengan buah, kacang, permen, sedotan, pita, kerucut pinus berwarna emas, dan ornamen lainnya.

Sebuah artikel yang ditulis oleh The Spruce mengatakan, semua makanan dan permen di pohon Natal tersebut tak boleh dimakan sampai Natal tiba.

Ada sebuah legenda yang bisa menjelaskan kebiasaan aneh itu. Alkisah, Santo Bonifasius adalah orang pertama yang menggantung pohon Natal secara terbalik. Tepatnya pada abad ke-8. Ia merupakan seorang misionaris Kristen keturunan Sachsen yang berasal dari Inggris.

Sebagai seorang tokoh misionaris, Bonifasius memusatkan misi utamanya memberantas kekafiran di Jerman. Bonifasius melihat orang-orang kafir (pagans) bersiap untuk merayakan titik balik matahari musim dingin. Mereka mengorbankan seorang pemuda di bawah pohon ek, pohon suci dalam kepercayaan mereka. Bonifasius marah atas perlakuan mereka dan memotong pohon tersebut.

Dalam beberapa waktu, pohon cemara tumbuh di tempat itu, tempat di mana Bonifasius memotong pohon ek tadi. Ia kemudian memutuskan untuk menggantung pohon cemara tersebut, membaliknya dan menggunakannya sebagai alat untuk menjelaskan Tritunggal Mahakudus (Holy Trinity) kepada orang-orang kafir, saat mencoba mengonversikannya ke agamanya.

Beberapa sejarawan mengatakan, tradisi menggantung pohon Natal masih populer di beberapa negara Eropa, seperti yang dilakukan pada 100 tahun yang lalu. Namu, alasan di balik penggantungan pohon sudah berubah.

Bernd Brunner menulis dalam bukunya, Inventing the Christmas Tree, orang-orang yang tinggal di abad ke-19 membutuhkan ruangan untuk lantai mereka. Namun, meletakkan pohon di atap adalah tindakan buruk.

Tampaknya praktik menggantung pohon pada zaman modern ini dimaksudkan untuk keperluan tertentu, komersial misalnya.

Wakil Presiden Pengembangan Produk di Roman Incorporated, Loughman mengatakan kepada NPR pada 2005, “Dengan memasang pohon terbalik, Anda lebih memiliki ruang di dalam toko. Anda juga bisa menempatkan semua hiasan setara dengan pandangan mata. Anda bisa menempatkan barang jualan di bagian bawah pohon atau di rak tepat di belakang pohon,” ungkapnya.

Tradisi memasang pohon Natal mungkin berkaitan dengan tokoh reformasi Jerman Martin Luther, yang memopulerkan penggunaan pohon Natal pada 1605. Dahulu, ia terinspirasi oleh keindahan bintang-bintang pada malam Natal.

Ia juga menggunakan pohon pinus sebagai properti dalam “pertunjukan keajaiban” (miracle plays) yang dipertontonkannya di depan katedral pada waktu Natal. Akhirnya, gereja melarang praktik tersebut. Namun, tradisi pembuatan pohon Natal hias masih terus berlanjut hingga kini.

Komentar Anda