Seram, Kamar Tidur Pria Ini Berada di Atas Kuburan

0
0

Mbuyiselo Mthimkulu, ayah tiga anak yang kini berusia 48 tahun, awalnya tidak terganggu oleh situasi pemukiman informal Hlala Kawabafileyo (tinggal dengan orang mati) di Tshepiso, dekat Sharpevilla, di wilayah Vaal, Afrika Selatan.

Menurut Sowetan Live, Rabu 4 Oktober 2017, Mbuyiselo Mthimkulu yang telah tinggal di pemukiman informal itu selama delapan tahun terakhir, mulai terusik ketika sejumlah orang asing datang ke gubuk empat kamarnya tiga bulan lalu.

Tamu itu meminta izin untuk melihat kuburan saudara mereka.

“Saya terkejut ketika mereka mengatakan mereka berada di sini untuk mengunjungi makam kerabat mereka. Saya bertanya apakah mereka bisa melihatnya di luar di halaman saya.

“Mereka lalu menunjuk ke kamar saya dan berkata ‘ini ada di sini.’ Saya langsung gemetar…,” katanya.

Tidak perlu waktu lama bagi tamu itu untuk menemukan nisan dari kerabat mereka yang berada di bawah karpet kamar Mthimkulu.

“Bagaimana Anda bisa tidur nyenyak jika mengetahui ada kuburan di kamar tidur Anda? Saya tidak bisa tidur berhari-hari,” kata Mithimkulu.

Putrinya, yang berusia 20 tahun, langsung meninggalkan rumah itu untuk tinggal bersama neneknya karena dia takut setelah mengetahui selama ini mereka “tidur dengan orang mati”.

Sementara, beberapa orang malah mempertimbangkan untuk mendirikan rumah di antara batu nisan dengan mayat-mayat di bawahnya yang agak tabu bagi penduduk Hlala Kwabafileyo. Alasannya, wilayah pemukiman itu adalah satu-satunya tempat yang dapat mereka tinggali sebagai rumah.

Di kampung yang terletak di antara batu nisan itu, siang itu sekelompok anak terlihat asyik bermain. Mereka seolah tak sadar akan lingkungan sekitar mereka.

“Mereka tidak tahu,” kata Mthimkulu.

Permukiman informal itu telah ada selama lebih dari 20 tahun. Kampung itu pertama kali menjamur ketika pemerintah memindahkan masyarakat dari Tshepiso Phase 3 untuk membangun rumah mereka.

Warga awalnya dipindahkan ke samping pemakaman. Dan, mereka baru tahu kemudian mengetahui bahwa tanah yang mereka bangun di bawah gubuk mereka adalah bagian dari pemakaman.

Kelompok penduduk pertama yang pindah ke sana sejak menduduki rumah itu kemudian menjual atau menyewakan gubuk di Hlala Kwabafileyo.

“Yang kami inginkan hanyalah pindah. Uang telah merusak orang-orang kami, anggota dewan kami memusatkan perhatian pada perut mereka sendiri, mereka tidak peduli dengan kami,” kata Benmore Moeketsi, 53 tahun. Moeketsi telah tinggal di sana selama lebih dari 10 tahun. ‘

“Ba phelang ha ba dule le bafu [hidup tidak hidup dengan orang mati]. Ini membawa nasib buruk pada kehidupan seseorang, karena makam dimaksudkan untuk menjadi tempat suci,” kata Moeketsi.

Juru bicara kota Emfuleni, Anita Sehlabo, mengatakan mereka berencana untuk memindahkan penduduk di sana ke kota dan akan memagari pemakaman tersebut pada bulan Desember depan.

Lepas dari itu, coba bayangkan bila kamar tidur Anda berada di atas makam. Apakah Anda masih tetap bisa tidur?

Komentar Anda